Perdebatan seputar hukuman mati


Para pendukung hukuman mati mengajukan alasan-alasan:
(1) hukuman mati mencegah orang untuk melakukan kejahatan kekerasan yang
diancamnya, sedangkan hukuman penjara saja tidak seefektif itu;
(2) hukuman mati sepadan dengan berat kejahatan yang dilakukan;
(3) hukuman seumur hidup justru lebih kejam daripada hukuman mati;
(4) adanya para pembunuh berbahaya di penjara dapat menimbulkan risiko bagi
para petugas penjara dan sesama narapidana;
(5) risiko #4 juga bisa dihadapi oleh masyarakat bila penjahat bersangkutan
mendapat keringanan dan penghapusan hukumannya;
(6) ada kemungkinan para penjahat lari dari penjara;
(7) hukuman penjara seumur hidup tidak ekonomis

Para penentang hukuman mati mengajukan alasan-alasan:
(1) tidak ada bukti bahwa hukuman mati adalah pencegah yang lebih baik dan
melindungi masyarakat lebih baik dibandingkan hukuman seumur hidup;
(2) bahwa kesalahan pengadilan mungkin menyebabkan orang tidak bersalah
dihukum mati yang tidak bisa dibatalkan kembali;
(3) hukuman mati biasanya diterapkan secara tidak adil, yakni kebanyakan
diterapkan terhadap orang miskin, kelompok minoritas dan tak berdaya, yang
tidak mampu membayar pengacara ulung dan pengadilan banding;
(4) hukuman mati merendahkan martabat masyarakat dan negara ke tingkat yang
sama rendahnya seperti penjahat yang bersangkutan;
(5) kekerasan negara dalam bentuk hukuman mati pada gilirannya menumbuhkan
kekerasan para penjahat sendiri dan meningkatkan kebrutalan para petugas
penjara dan pelaksana hukuman mati;
(6) hukuman mati mensensasionalkan proses pengadilan dan mendistorsikan
pelaksanaan hukum pidana.

Para ahli kriminologi tidak pernah berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang
meyakinkan yang dapat memecahkan masalah ini. Banyak argumen yang
ditampilkan oleh kedua belah pihak dalam debat ini merupakan masalah
tatanilai moralitas dan keyakinan pribadi, yang tidak termasuk lingkup
penelitian kriminologi.

[Dari: Encyclopaedia Britannica, 1994, 2:831; 16:812-4]

Komentar

Postingan Populer